Pengalaman Mengelola Keuangan Lewat Magang Tidak Dibayar
How people manage money is by how their behave rather than how intelligent they are
Itu salah quote yang kudapat dari perkenalan buku “Physiology of Money”, chapter pertama berisi tentang pengalaman serta keadaan seseorang menentukan bagaimana mereka mengelola keuangan. Seseorang yang hidup dalam keadaan susah maupun kaya akan memiliki pengalaman, emosi, serta keputusan yang berbeda beda ketika menggunakan harta mereka, makanya ketika seseorang membeli sesuatu yang bagi orang lain terlihat gila di mata dia normal sesuai dengan pengalaman serta pengetahuan yang sudah dimiliki.
Pada bulan ini aku sudah punya uang saku setelah 1 bulan magang dari Kemanaker, pada awalnya ingin kupakai tapi kuputuskan untuk disimpan dan berpikir bagaimana aku bisa memaksimalkan alokasi yang tepat untuk bulan berikutnya. Memang aku saat ini punya kelonggaran untuk menghabiskan lebih terutama di makanan ketika bekerja namun justru yang kurasakan adalah uang yang kupegang bisa dipakai untuk transporatasi naik Angkot atau Busway tanpa perlu meminta lagi bapakku. Aku sudah ada rencana untuk service dan upgrade laptop ini setelah itu aku akan simpan uangnya dan akan kupakai nanti untuk hal laih karena aku sadar sampai aku punya pekerjaan full time maka uang yang kepegang bisa hangus jika tidak hati hati.
Pemikiran atau mindset ini kukembangkan dari magang sebelumnya yang mana selama magang 3 bulan setiap hari harus datang ke kantor dan setiap kali di beri uang saku aku selalu coba putar otak bagaimana aku bisa simpan uang yang dipakai untuk membeli sesuatu apapun itu namun setiap kali kucoba pasti harus kupakai buat sarapan, makan siang, ataupun jajan yang ingin kubeli dari waktu ke waktu dan Transportasi pun untuk naik TJ masih dibiayai. Yang menyakitkan adalah memakai uang yang ku simpan dari makan siang hanya untuk dihabiskan untuk naik angkot itupun tidak sampai di rumah makanya sampai detik ini aku masih tidak suka pakai uang ku buat naik angkot karena aku merasa rugi setiap kali naik.
Sekarang karena sudah punya uang sendiri justru aku makin semangat karena aku tidak perlu terus memikirkan bagaimana aku mengeola uang untuk bisa cukup 2 atau 3 hari kedepan, dan aku baru sadar akhir akhir ini kalau uang yang diberi waktu magang dulu adalah uang operasional untuk transporatasi dan makan makanya sekeras apapun ku coba uang itu pasti akan dipakai one way or another dan aku masih tidak sadar kala itu karena berpikir aku mungkin bisa simpan uang ku walaupun sedikit tanpa kusadari masih ada hari esok dan berikutnya untuk dipakai. Aku rasa semakin dewasa maka kebutuhan juga akan meningkatkan, dengar obrolan dari teman kantor kalau sudah dewasa uang 50k atau 100k sudah tidak cukup padahal 10 tahun yang lalu ketika masih sekolah dapet 50k terasa besar untuk dijajankan. Pengalaman seperti ini berharga karena dengan tidak dibayar ketika magang membantu ku melihat uang sebagai barang yang berharga untuk disimpan.